SANGGAR LEMPIA LAHIRKAN TARI RATU TRIENG

DSC_0084

Formasi Ratu Trieng

Banda Aceh–Perkembangan kesenian di Aceh seakan terus melejit. Salah satunya adalah perkembangan seni tari. Biasanya, denyut seni tari selalu berada dalam wadah yang dikenal dengan sanggar tari. Namun, tidak semua sanggar tari memiliki ketertarikan untuk berkreasi menciptakan seni tari baru yang sekaligus tetap menjaga originalisasi nilai adat dan budaya.

Hal tersebut menjadi prioritas utama yang dilakukan oleh Sanggar Lempia (Lembah Gunung Piatu). Sanggar tersebut yang berdiri sejak tahun 1985 sampai tahun 1990. Akhirnya mendapat pengesahan (AKTA) pada tanggal 15 Januari 2004 di Lampaseh Kota Banda Aceh. Nama Lempia diangkat dari sejarah tempat tinggal sang pelatih yang juga merupakan pimpinan sanggar Lempia tersebut.

Sanggar Lempia adalah merupakan organisasi kesenian yang bergerak dibidang seni tari, sastra/puisi, dan music tradisional. Dalam aktifitasnya, sanggar tersebut sangat mementingkan semangat kekeluargaan dan gotong royong serta musyawarah dan mufakat.

Sanggar tersebut dibentuk untuk menanamkan berkepribadian Indonesia yang mencintai kebudayaan daerah kepada anggotanya, memandu dan menumbuh-kembangkan minat dan bakat seni dari generasi muda dan membantu pemerintahan dalam melesatarikan budaya daerah khususnya di Aceh. Hal tersebut disampaikan oleh pendiri sekaligus pimpinan Sanggar lempia Zufli Hermi Daud.

Masih menurutnya, Sanggar Lempia sudah banyak memberikan konstribusi positif bagi kemajuan kesenian di Aceh. Konstribusi tersebut sudah dilakukannya sejak tahun 1985 khusuny dalam bidang pengembangan seni dan budaya di Aceh sesuai dengan jalurnya yaitu mempertahankan nilai tradisionalisme seni tersebut tanpa memodifikasinya.

Seperti penuturannya, saat ini dirinya sedang fokus melatih anak didiknya di Sanggar Lempia yang saat ini jumlahnya mencapai 70 orang. Mereka dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok senior dan kelompok junior.

“Kalau junior usia SD sampai dengan SMP, sementara yang Senior usia SMA sampai dengan kuliahan,” demikian ungkap pria yang biasa disapa Emi.

Tari Ratu Trieng

Saat ini, Sanggar Lempia sedang memfokuskan diri mengembangkan sebuah tarian yang diberi nama Tarian Ratu Trieng. Sesuai dengan namanya, dalam bahasa Aceh, Trieng bermakna bambu. Tari tersebut menggunakan potongan bambu panjang dan dipukul oleh 11 orang wanita yang duduk berbaris dihadapan bambu tersebut menggunakn stik sehingga akan memunculkan alunan suara yang sangat indah.

Alunan suara ketukan bambu tersebut, dikolaborasikan dengan vocal dan pemusik pria yang berjumlah 8 orang. Jumlah tersebut merupakan lazimnya di Aceh karena setiap seni tari yang dibarengi musik, pasti didampingi oleh vocal.

Masih menurut penuturan Emi, bahwasanya tari Ratu Trieng tersebut sebenarnya diangkat dari nilai histori “trieng” itu sendiri yang berarti bambu. Seperti diketahui, bambuadalah salah satu tumbuhan yang sangat berguna digunakan masyarakat Aceh sejak jaman dahulu.

Namun, seiring pertumbuhan jaman, perlahan kegunaan bambo dalam kehidupan masyarakat Aceh mulai ditinggalkan dan digantikan dengan peralatan modern. Biasanya peralatan tersebut mencakup peralatan rumah tangga, mulai dari aksesoris kecil, bahkan sampai dijadikan bahan utama membangun tempat tinggal.

“Sewaktu zaman dulu bambusangat bergunabagi masyarakat Aceh, tetapi seiring bergantinya zaman ke modern, hasil-hasil dari bambu itu sendiri sudah mulai ditinggalkan,” demikian tambahnya.

Berdasarkan pemikiran itulah, Emi berupaya melestarikan kembali nilai historis bambo tersebut melalui kesenian yaitu dengan melahirkan dan mengembangkan seni tari Ratu Trieng tersebut. Diharapkan nantinya, kesenian tersebut dapat dipentaskan.

Tari Ratu Trieng tersebut nantinya tidak akan meniru gerakan dari tari lainnya. Irama pukulan bambu tersebut nantinya dipadu dengan vocal yang mengisahkan tentang manfaat dan jasa bambu dalam kehidupan masayarakat Aceh.

Diharapkan nantinya, tarian Ratu Trieng yang sudah pernah dipentaskan dalam beberapa event yang pernah digelar di Banda Aceh tersebut nantinya akan dipentaskan juga di event-event nasional bahkan internasional.

“Sudah kita tampilkan di beberapa event yang ada dikota Banda Aceh, tapi kalau untuk keluar negeri belum pernah karena tarian ini masih baru,” ujar Emy.

Selain melahirkan tari Ratu Trieng tersebut, sanggar Lempia juga sudah banyak melahirkan kreasi-kreasi kesenian lainnya. Namun, sanggar tersebut tetap menjaga nilai tradisinya. Ia mencontohkan, ada beberapa tarian yang dianggap menyeleweng/meyalahi nilai tardisionilnya seperti Tari Ratu Duk dianggap Tari Saman.

Emy juga meminta kepada para seniman agar bisa menjaga dan menghargai kesenian tradisi Aceh. Dirinya mengharapkan agar jangan merubah atau memodifikasi kesenian tradisi Aceh tersebut sehingga kedepannya akan berdampak buruk bagi anak-cucu  nantinya.

“Jadi buat para seniman yang ingin menambah polesan lain kepada kesenian tradisional yang memang sudah ada baik dari segi berpakaian, bersanggul kalau buat wanita, juga gerakannya, tolong pikirkan dampak kedepannya untuk generasi yang akan datang,” demikian pungkas Zufli Hermi Daud.(Aditya)

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s